Pembelajaran Pada Masa Kelaziman Baru Tahun 2024

Permulaan era pembelajaran di sekolah tahun ini amat mulai lebih istimewa karena kami lalui didalam era pandemi COVID-19. Sebelumnya, melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri berkenaan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi, pemerintah mengumumkan bahwa pembelajaran tatap wajah pada tahun ajaran baru 2020/2021 cuma bisa dilaksanakan pada satuan pendidikan di zona hijau. Belakangan, nampak ketentuan baru berasal dari pemerintah bahwa sekolah-sekolah yang berada di zona kuning juga diperbolehkan lakukan pembelajaran tatap muka. Sekolah yang berada pada zona oranye dan merah diharuskan selalu melanjutkan sistem Belajar Dari Rumah (BDR).

Data per tanggal 3 Agustus 2020 menyatakan bahwa 43% peserta didik berada pada wilayah zona hijau dan kuning (htpp://covid.go.id). Artinya, sekolah-sekolah yang menampung hampir separuh peserta didik di Indonesia tersebut perlu mulai bersiap mobilisasi pembelajaran tatap muka. Oleh karenanya, adalah kebutuhan yang mendesak untuk mengayalkan bagaimana pembelajaran di era kelaziman baru (new normal) ini dilakukan.

Mispersepsi pada Kelaziman Baru

Selama ini, terdapat pandangan umum bahwa era kelaziman baru adalah saat di mana diberlakukan lagi sejumlah kesibukan sebelum pandemi dengan disertai penambahan penerapan protokol kesehatan secara ketat didalam rangka menahan penyebaran virus COVID-19. Pandangan semacam ini sepertinya juga berjalan di tingkat satuan pendidikan yang bersiap untuk memulai pembelajaran tatap muka. Dalam penyiapan pembelajaran di era kelaziman baru, sekolah lakukan usaha pencegahan penyebaran COVID-19 melalui penjadwalan masuk bagi siswa, pengurangan durasi jam pelajaran, menyiapkan fasilitas sanitasi yang lumayan dan juga aturan-aturan lainnya.

Cara pandang layaknya itu menyatakan sebuah kegagalan didalam menarik hikmah selama pandemi. Seperti judi bola online kami ketahui, selama wabah berjalan sekolah mobilisasi sistem BDR yang mana pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh supaya guru dan siswa tidak bertatap wajah secara langsung. Dari pengalaman BDR tersebut setidaknya tersedia tiga perihal yang mestinya bisa kami petik untuk meningkatkan mutu pembelajaran di era kelaziman baru ini.

Pertama, optimalisasi pemakaian teknologi didalam sistem pembelajaran. BDR sudah memaksa tiap tiap guru untuk membangun kesadaran baru berkenaan pemakaian teknologi didalam menopang sistem pembelajaran, baik didalam membangun pertalian guru-siswa maupun didalam memperluas sumber-sumber belajar. Memang terdapat catatan bahwa tidak seluruh sekolah bisa mengoptimalkan pemafaatan teknologi selama BDR berlangsung. Namun, pada sekolah-sekolah yang bisa memanfaatkan tekonologi secara optimal, hasil yang diperoleh amat menggembirakan.

Kedua, menguatnya partisipasi orang tua didalam menopang belajar peserta didik. Seperti dikatakan oleh Christopher Bjork (2006), partisipasi orang tua di sekolah selama ini kebanyakan terbatas pada bentuk-bentuk sumbangan dana yang digunakan untuk membangun fasilitas dan prasarana sekolah. Namun, didalam pelaksanaan BDR para orang tua secara aktif mendampingi anak didalam sistem pembelajaran jarak jauh. Partisipasi aktif orang tua ini sudah pasti tidak cuma mendorong meningkatkan mutu pembelajaran tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang artinya bagi anak.

Ketiga, pendidikan kecakapan hidup sebagai tidak benar satu substansi pembelajaran. Surat Edaran Mendikbud no 4 tahun 2020 berkenaan Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam era Darurat Penyebaran COVID-19 tidak benar satunya menyatakan bahwa pelaksanaan BDR bisa difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain berkenaan pandemi COVID-19. Artinya, pengalaman pembelajaran di era pandemi ini beri tambahan pengalaman berkenaan bagaimana praktik pendidikan kontekstual dijalankan. Jika dilanjutkan di era kelaziman baru, praktik semacam ini bisa menjadi jawaban atas kritik pada pembelajaran di sekolah yang selama ini dipandang terputus berasal dari kehidupan sehari-hari.

Persiapan Pembelajaran di Masa Kelaziman Baru

Bertolak berasal dari cara pandang di atas, pembelajaran pada era kelaziman baru nanti idealnya tidak cuman meningkatkan protokol kesehatan atas praktik pembelajaran lama. Pengalaman selama BDR mestinya bisa dipetik sebagai pelajaran untuk mengembangkan sistem pembelajaran pada era kelaziman baru yang lebih mengoptimalkan teknologi dan meningkatkan partisipasi orang tua, dan juga menghadirkan pendidikan kontekstual di sekolah. Untuk itu, setidaknya terdapat tiga perihal yang perlu dilakukan.

Pertama, perluasan akses perangkat dan jaringan internet untuk guru dan siswa. Optimalisasi pemakaian teknologi didalam sistem pembelajaran mensyaratkan terdapatnya jaringan internet dan perangkat digital (seperti: laptop, tablet, smartphone). Untuk itu, jaminan atas ketersediaan jaringan internet yang stabil, subsidi kuota internet, dan juga perlindungan perangkat digital menjadi amat diperlukan. Penyediaan akses pada perangkat digital dan jaringan internet ini kiranya bisa memicu sistem pembelajaran lebih efisien (tidak perlu lagi anggaran cetak buku), efisien (mampu menjangkau lebih banyak sumber belajar), dan merata (distribusi bahan ajar lebih luas).

Kedua, peningkatan kapasitas guru. Bagaimanapun guru miliki peran paling sentral didalam menghadirkan pembelajaran yang bermutu (Aris R. Huang, Shintia Revina, Rizki Fillaili, dan Akhmadi, 2020). Pengalaman pembelajaran di era pandemi ini lagi mengingatkan berkenaan pentingnya peningkatan kapasitas guru lebih-lebih mengenai dengan kecakapan digital dan juga menghadirkan pembelajaran yang artinya bagi siswa di Indonesia. Ke depan tuntutan guru tidak cuma cuman mengajarkan materi didalam buku pelajaran melainkan perlu kreatif dan inovatif mendayagunakan bermacam sumber belajar dan menghadirkan sistem pembelajaran kontekstual bagi siswa.

Ketiga, pemberdayaan orang tua. Usaha untuk meningkatkan partisipasi orang tua didalam sistem pembelajaran perlu tetap dilakukan. Selama ini, bermacam perihal turut menahan keterlibatan orang tua didalam pendidikan anak di sekolah, antara lain: persepsi orang tua bahwa pendidikan/pengajaran adalah kewenangan sekolah, rendahnya kecakapan orang tua didalam mendampingi anak belajar, maupun ketiadaan saat karena perlu bekerja. Satuan pendidikan kiranya perlu lebih mengetahui bermacam persoalan yang menahan partisipasi orang tua tersebut dan lakukan bermacam usaha pemberdayaan didalam rangka meningkatkan partisipasi mereka.