Apakah Pakai Duit Haram Untuk Naik Haji Dilegalkan?

Perjalanan haji yaitu salah satu rukun Islam yang memerlukan komitmen dan persiapan matang, baik dari segi lahiriah, mental, ataupun finansial.

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan ibadah haji tidaklah sedikit, mencakup beragam aspek untuk tarif haji seperti tarif perjalanan, akomodasi, konsumsi, serta tarif administrasi.

Kecuali itu, tarif juga dapat meningkat seiring dengan alternatif fasilitas yang diterapkan, seperti kelas penerbangan, ragam 777 slot online penginapan, dan layanan tambahan lainnya yang disediakan oleh penyelenggara haji.

Keperluan ini menjadikan persiapan finansial menjadi hal yang benar-benar penting bagi calon jamaah haji. Lalu bagaimana kalau berhaji dengan duit haram? Apakah resmi hajinya?

Sejumlah ulama mengatakan bahwa hajinya resmi, beberapa ulama lain mengucapkan tak resmi. Begini penjelasan lengkapnya.

Pendapat Imam Hanafi, Maliki dan Syafi’i
Pendapat Imam Hanafi, Maliki dan Syafi’i
Artinya: (Gugurlah kewajiban orang yang berhaji dengan harta haram) seperti harta rampasan sekalipun dia bermaksiat. Sama halnya dengan sholat di daerah hasil rampasan atau mengenakan baju terbuat dari sutra (Abu Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz 6, halaman 51).

Syekh Abu Zakariya Al-Anshari secara mengatakan bahwa jamaah yang membiayai hajinya dengan harta haram itu sama seperti orang yang bersembahyang dengan mengenakan baju hasil merampas atau sutra, baju yang diharamkan bagi pria.

Artinya ibadah haji dan sholat orang yang bersangkutan tetap resmi. Dengan demikian gugurlah tuntutan semestinya ibadah dari orang tersebut.

Berikut Pendapat Pendapat Hambali
Sementara madzhab Hanbali mengucapkan bahwa ibadah haji yang dibiayai dengan harta yang haram tak resmi. Karena jamaah yang menunaikan ibadah haji dengan harta yang haram masih tetap berkewajiban untuk menunaikan ibadah haji di tahun-tahun berikutnya mengingat hajinya dengan harta haram itu tak resmi.

Artinya: Seseorang disarankan untuk betul-betul mencari harta halal, supaya dia dapat memakainya di masa perjalanannya. Karenanya sungguh Allah itu suci, tak menerima selain yang suci. Di dalam hadits dikatakan, siapa berhaji dengan harta haram, kalau dia berkata “labbaik” karenanya dijawab malaikat, “La labbaik, wala sa’daik, hajimu tertolak”. Karena siapa yang berhaji dengan harta haram, karenanya hajinya memadai sekalipun dia bermaksiat sebab merampas. Sementara Imam Ahmad berkata, hajinya tak cukup (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1996 M/1417 H, juz 3, halaman 181).

Kalangan Hanafi, Maliki, dan Syafi’i mengeluarkan argumentasi bahwa haji itu sendiri yaitu kunjungan ke daerah-daerah istimewa dalam agama. Dan itu tak dilarang. Karenanya dilarang agama yaitu menggunakan harta yang haram itu seperti untuk keperluan haji. Jadi keduanya tak terkait sama sekali.

Sama halnya dengan orang sholat di tanah rampasan (hasil kejahatan). Shalatnya sendiri itu tetap resmi. Walaupun menempati tanah yang diharamkan itu yang dilarang oleh agama. Karena ibadah haji atau sholat tak dapat disifatkan haram.

Karenanya gugur kewajiban ibadah itu, tapi manasik haji tak diterima dan tak menerima pahala dari Allah. Nasib manasik hajinya sama seperti orang sembahyang tapi riya, atau berpuasa tapi mengghibah.

Semuanya tak diganjar pahala. Karena argumentasi yang diajukan Ibnu Abidin dalam Haysiyah Raddul Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 2000 M/1421 H, Juz 2 halaman 456.

Sementara madzhab Hanbali sepakat dengan jumhur ulama tentang penerimaan dan pahala. Mereka yang menunaikan ibadah haji dengan harta haram tak menerima pahala. Karena terkait kesahihan, madzhab Hanbali mengucapkan bahwa haji yang dibiayai dengan harta haram tak resmi.

Karena mereka semestinya mengulang hajinya pada tahun depan sebab hajinya tahun ini tak resmi. Karenanya tak dapat mencampurkan antara ibadah dengan hal-hal batil.

Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa haji ataupun ibadah lainnya yaitu perintah Allah yang semestinya dihormati dan tunaikan. Artinya, progresnya pun semestinya dipersiapkan dan dilaksanakan dengan penuh takzim.

Jangan hingga tercampur harta haram dalam pembiayaan haji. Karenanya Allah itu suci, tak akan menerima apapun selain yang suci.